• Jumat, 18 Mei 2012
Mengintip Transaksi Rupiah di Jalur Lalu-lintas

Jasa Penukaran Uang Baru Belum Menggeliat

Andi Penowo - Timlo.net
Selasa, 7 September 2010 | 00:46 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Andi Penowo
Jasa Penukaran Uang Baru tampak sepi konsumen

Solo – Segurat asa terpancar jelas dari raut wajah Santoso. Walau harus berpeluh keringat terpapar sinar matahari, ia tetap lantang menawarkan beberapa bungkus lembaran uang baru yang ada di tangannya. Tanpa segan, kepada setiap pengendara yang lewat di depannya, Santoso mencoba menarik perhatian mereka.

Di Jl Adi Sucipto, tepatnya di sepanjang Manahan, banyak orang yang secara mendadak berprofesi menawarkan jasa penukaran uang baru seperti Santoso. Entah hanya karena untuk mengisi waktu ataupun dijadikan sumber pendapatan keluarga. Hampir di setiap jarak kurang dari sepuluh meter di jalan ini dapat ditemui jasa penukaran uang baru.

Andi (20), yang mencoba kesempatan sebagai tukang jasa penukaran uang baru di Jl Adi Sucipto, ditemui Timlo.net, Selasa (6/9) mengatakan, dirinya telah menjual jasa sejak awal bulan puasa. Diakuinya, tiap kali ia mangkal, jumlah konsumen yang singgah tak kurang dari lima orang. Hingga menjelang lebaran inipun tak ada peningkatan berarti. Remaja asal Colomadu ini menawarkan jasa penukaran uang baru sejak jam 07.00 hingga 18.00 WIB.

Sudah sejak tiga tahun lalu Andi mencoba mengais rejeki di kawasan Manahan tiap kali Ramadhan tiba. Ketika ditanya perihal nominal uang yang paling diminati, dikatakannya, “Kebanyakan orang biasanya mencari uang Rp 10 ribu karena desainnya baru.” Dari penukaran uang tersebut, Andi mengambil untung lima hingga sepuluh persen bergantung kondisi.     

Selain di Jl Adi Sucipto, jasa penukaran uang baru ini juga banyak dijumpai hampir di sepanjang ruas Jl Slamet Riyadi. Transaksi uang baru di jalan inipun tak jauh beda dengan di Jl Adi Sucipto, relatif sepi. Hanya beberapa orang saja yang terlihat mendatangi jasa penukaran uang baru.

Agus (47), kepada Timlo.net mengungkapkan, sejak dua minggu dirinya menjajal bisnis uang baru, ia merasakan sepinya konsumen. “Dalam sehari kadang hanya dapat konsumen tiga, bahkan pernah tidak ada konsumen sama sekali,” lanjutnya. Hanya dengan bermodalkan Rp 2 juta, Agus menukar sendiri uang baru ke Bank Indonesia walau harus rela mengantri dan berdesakan hingga lima jam.

Seperti Andi, Agus mengaku, nominal yang paling diminati konsumen adalah Rp 10 ribu. Dari jasa penukaran ini, dirinya mengambil keuntungan lima hingga sepuluh persen bergantung kondisi. Dikatakan dia, “Kalau lagi sepi ngambil untuk lima persen, tapi kalau ramai ngambil sepuluh persen.”

         

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan innity

google adsense

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan mettafm